Agresi israel ke gaza

Perang telah ada hampir sejak awal keberadaan umat manusia itu sendiri. Kebutuhan ekonomi dan politik yang saling bersaing telah menggiring manusia untuk mengangkat senjata melawan satu sama lain. Senjata dan tentara telah berkembang berdampingan, sehingga perang telah tumbuh semakin dahsyat dan merusak.

Namun, sampai abad ke-20, perang masih berbentuk “perang garis depan”, di mana para serdadu dari kedua belah pihak bertemu di kedua sisi medan perang dan pertempuran hanya berlangsung di sekitar medan ini. Dalam bentrokan ini, hanya serdadu sajalah yang terbunuh.

Tetapi di abad ke-20, sejenis perang baru telah lahir, perang yang sasarannya tidak hanya para serdadu, namun juga rakyat banyak. Akibat perang seperti itu dirasakan tidak hanya di beberapa negara saja, namun cenderung telah menyeret seluruh dunia ke dalam mulut menganga yang mengerikan.

Sepanjang sejarah, perang telah menimbulkan korban dan penderitaan yang hebat pada masyarakat. Sejumlah nabi yang diutus kepada manusia sebagai utusan Allah telah memperingatkan mereka akan malapetaka dan kekisruhan ini.

Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka Syu’aib, maka ia berkata, “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir, dan jangan kamu berkeliaran di muka bumi berbuat kerusakan.” (QS Al-Ankabut: 36)

Melalui suara nabi mereka, bangsa Israel berjanji kepada Allah untuk tidak menumpahkan darah:

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. (QS Al-Baqarah: 84) Edisi di balik perang_Harun yahya edisi bahasa indonesia

Kini bangsa israel lagi-lagi melanggar janji nya pada Tuhan dengan kembali melakukan Agresi ofensif brutal ke pemukiman padat jalur gaza yang sebelumnya telah mereka blokir pada tahun 2007 lalu karena kemenangan HAMAS dalam pemilu di negara palestina yang telah di lakukan secara demokratis.Agresi militer Israel ke Palestina ini dilakukan secara membabi buta dan emosional dengan dalih menghancurkan pusat-pusat persenjataan HAMAS, faktanya Serangan Israel eksesif dan indiscriminate, atau tidak membeda-bedakan target baik dari segi penduduk maupun bangunan yang dituju sehingga agresi militer ini adalah sebuah anomali. Dengan agresi ini, Israel ingin membalas serangan yang dilancarkan pejuang Hamas yang menembakkan roketnya ke permukiman Israel.

Dunia mengutuk keras perbuatan tersebut dan Dewan Keamanan PBB mengecam tindakan tersebut, namun israel terus saja menggempur pemukiman gaza sepanjang tiga pekan semenjak berakhirnya gencatan senjata antara HAMAS dan israel pada tanggal 27 desember 2007 dan ini sudah merupakan tragedi kemanusiaan yang paling mencolok mata. serangan Israel ke Jalur Gaza telah melanggar berbagai Hukum internasional dan juga hukum humaniter ( hukum perang )

Sejak Israel melancarkan Operation Cast Lead pada 27 Desember 2008 untuk menghentikan serangan roket Hamas, lebih dari 1.100 orang Palestina termasuk 355 anak-anak, terbunuh dan setidaknya 5.000 orang terluka. Serangan ini secara faktual telah melanggar :

hukum internasional menyusul serangan militer mautnya di Jalur Gaza, termasuk dengan menyerang rumah sakit, media massa dan gedung-gedung PBB (fasilitas sipil ) Presiden Majelis Umum PBB ke -192, Miguel d’Escoto Brockmann dari Nicaragua.berkata Pelanggaran hukum internasional yang melekat dalam serangan Gaza tercatat sangat baik: hukuman kolektif; penggunaan (kekuatan) militer yang sangat berlebihan; serangan terhadap warga sipil termasuk rumah-rumah, masjid-masjid, universitas-universitas, sekolah-sekolah,”

Universal Declaration of human rights 1948 dalam hal kewajiban untuk menghormati terhadap kemanusiaan

Piagam PBB meski negara Yahudi itu mengklaim serangannya sebagai self-defence (pembelaan diri). berdasarkan Pasal 51 Piagam PBB, maka Israel seharusnya mengkomunikasikan agresi yang dilakukannya kepada PBB dan membiarkan Dewan Keamanan PBB yang mengambil tindakan bukannya melakukan tindakan sepihak dengan aksi militer.

Piagam PBB dalam the 1970 Declaration on principles of International Law_Deklarasai mengenai Prinsip-prinsip dalam hukum internasional tahun 1970 dalam hal setiap negara mempunyai kewajiban untuk memenuhi tuntutan secara penuh dengan i’tikad baik menurut kewajiban internasional yaitu untuk hidup berdampingan secara damai.

tindakan Israel itu sudah melanggar hukum humaniter internasional, karena melakukan serangan terhadap fasilitas sipil

serangan Israel dapat disebut sebagai unjust war karena serangannya sudah tidak proporsional atau berlebihan yang tidak membeda-bedakan target baik dari segi penduduk maupun dari segi bangunan yang di jadikan target padahal dalam Konvensi Jenewa jelas-jelas menyatakan bahwa harus dibedakan antara mereka yang termasuk kombatan dan mereka yang warga sipil.

Konvensi-Konvensi Den Haag tahun 1907 tentang Hukum Humaniter

merupakan kejahatan perang bila PBB berani untuk melakukannya namun karena Israel didukung sangat kuat oleh negara Amerika Serikat yang memiliki kekuatan veto dalam DK PBB maka sampai saat ii seakan-akan kita melihat impotensi PBB

Israel terus melanggar Perjanjian Annapolis. Negeri Yahudi itu nekat meneruskan rencana pembangunan permukiman baru di wilayah sengketa Jerusalem Timur, yang oleh Palestina diharapkan jadi ibu kota negara mereka. Keserakahan Israel menguasai wilayah sengketa itu terlihat dari tidak adanya iktikad baik mereka menjalankan kesepakatan damai yang diteken di Annapolis, AS, atas prakarsa Presiden AS George W. Bush akhir tahun lalu. Rakyat Palestina kini melihat pembangunan gedung di Har Homa atau Jabal Abu Ghneim sebagai sebuah benteng yang melingkari seluruh wilayah, memotong daerah pendudukan Tepi Barat. Mereka menilai langkah itu merupakan upaya Israel mengambil lagi sedikit demi sedikit wilayah Palestina.

Komisioner HAM PBB, Navi Pillay mantan hakim pengadilan kriminal internasional dari Afrika Selatan Dengan merujuk insiden yang terjadi di Zeitoun, sebelah tenggara Gaza City, saat mana 30 warga Palestina dikumpulkan di sebuah rumah, kemudian dibunuh lewat granat Israel insiden itu terlihat memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai kejahatan perang dan melanggar HAM

mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB 1860 yang meminta pasukan israel segera dilakukan gencatan senjata dan penghentian segala bentuk kekerasan dan penyerangan di jalur gaza.

menggunakan senjata WP alias White Phosphorus (fosfor putih) untuk menggempur gaza . di mana senjata ini termasuk jenis senjata yang kontroversial karena akibat yang di sebabkan oleh penggunaan senjata ini terhadap manusia akan menimbulkan efek yang sangat mengerikan

Rejim Zionis-Israel melakukan ‘holocaust’ terhadap penduduk Gaza dengan sangat biadab. Tindakan biadab Israel itu menyebabkan ratusan orang yang tewas, dan ribuan lainnya yang luka. Sejak Israel memberlakukan embargo dan sanksi ekonomi, dan sekarang rejim Zionis-Israel melakukan serangan yang sangat brutal terhadap penduduk Gaza, yang mengakibatkan porak-porandanya kehidupan yang mana hal ini sudah di kategorikan sebagai dehumanisasi yang pada awalnya israel ini selalu mendengungkan tindakan genosida serupa yang pernah di lakukan nazi ( Hitler ) terhadap bangsa yahudi, Sebuah tindakan yang sangat ditentang oleh siapapun, karena bentuk tindakan dehumanisasi namun sekarang Zionis-Israel melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Hitler yang lebih dahsyat lagi.

Konvensi Monevideo 1933 dalam draft Declaration of the Rights and Duties of Nations_ Hak-hak dan kewajiban Negara dalam hal kewajiban untuk tidak mengganggu wilayah kedaulatan negara lain.

Janji pada Tuhan dalam kitab suci nya.

Setelah terdapat daftar panjang pelanggaran – pelanggaran yang telah di lakukan zionis israel kini kita melihat beranikah PBB sebagai lembaga resmi dunia yang bertugas menciptakan perdamaian global menghentikan agresi sepihak militer Israel?

Menarik apa yang telah di ucapkan oleh juru bicara International Criminal Court (ICC) di The Hague yang di kutip dari mobile suara media _ Kamis, 15/01/2009 11:57 WIB..

Juru Bicara ICC, Nicola Fletcher mengatakan, bahwa ICC tidak punya kewenangan hukum untuk menyelidiki dugaan kejahatan perang yang dilakukan Israel dalam agresinya ke Jalur Gaza.

Fletcher mengungkapkan hal tersebut setelah organisasi hak asasi Palestina meminta ICC untuk menyelidiki kejahatan perang yang dilakukan Israel di Gaza, hari Rabu kemarin. Dalam pernyataannya, ICC mengatakan bahwa kewenangan hukum pengadilan hanya terbatas pada kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dilakukan di sebuah wilayah atau dilakukan oleh sebuah negara yang menjadi anggota ICC.Sementara Israel bukan anggota ICC.

Menurut Fletcher, ICC bisa melakukan penyelidikan atas kejahatan perang yang dilakukan Israel hanya jika pihak Israel bersedia menerima kewenangan hukum ICC atau jika ICC mendapat rujukan dari Dewan Keamanan PBB agar Israel diseret ke pengadilan.

Saat ini ada 108 negara yang terdaftar sebagai anggota ICC. Merekalah negara-negara yang ikut menandatangani Roma Statue yang menjadi dasar pembentukan pengadilan kriminal internasional yang berbasi di The Hague, Belanda pada tahun 2000. Pengadilan ini menyelidiki dan menjatuhkan sanksi atas kasus-kasus kejahatan perang, genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Israel dan AS tidak ikut menandatangani kesepakatan itu. Padahal saat ini, AS dan Israel adalah dua negara yang paling banyak melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perangNamun patut di cermati pernyataan …

Nah loh????

Kalau tidak berani karena takut dengan Israel dan AS, masa depan perdamaian dunia makin runyam karena diskriminasi kebijakan dan ketegasan. Mengapa PBB begitu bersemangat dan terkesan overacting ketika membahas nuklir Iran yang belum tentu jelas kebenarannya, sedangkan dalam masalah Israel dibiarkan? Inikah yang namanya keadilan ambigu yang penuh kemunafikan dan kebohongan.

Kalau dibiarkan, dunia makin tidak aman dan ancaman perang dunia ketiga sangat besar. Dibutuhkan kekuatan baru yang bisa dijadikan penyeimbang AS-Israel dalam konteks internasional.

Rusia dan China bisa mengambil peran ini. Di samping ekonomi keduanya kokoh, kekuatan militernya juga canggih.

Kalau dunia selalu bergantung PBB yang disetir AS dan Israel, instabilitas akan terjadi di mana-mana. Perpecahan internal dan permusuhan terselubung menjadi bahaya laten yang berbahaya.

Akhirnya, kita berharap PBB sebagai satu-satunya lembaga formal yang bertugas menjaga dan mengawal perdamaian dunia segera bertindak cepat, tepat, dan tegas agar tidak terjadi lagi agresi militer sepihak yang mengorbankan penduduk sipil. Jika PBB gagal mengatasi masalah ini, ke depan, dalam mengatasi masalah yang lain peran PBB dipertanyakan, betul-betul berani bertindak tegas dan adil atau sekadar menjadi kaki tangan AS dan sekutunya, termasuk di antaranya Israel? Wallahu alam

Published in: on Januari 23, 2009 at 3:40 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://faziel.wordpress.com/2009/01/23/agresi-israel-ke-gaza/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: